-->

Postingan Terupdate

Hidup Bagaikan Es Batu

AL HAYYATU KA AL TSALJI, ISTAMTI' BIHAA QOBLA AN TADZUUBA. Sobat Gudang Syair , Waktu terus berjalan. Ia tak akan pernah berhenti, apala...

Semua Warna Hidup itu Semu

gudang syair
23 Desember, 18.26 WIB Last Updated 2025-12-24T02:26:01Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

KEHIDUPAN DUNIA INI ADALAH SEMU, KEBAHAGIAAN DAN KESEDIHANNYA SEMU

Sobat gudang sya'ir, Kehidupan ini tak selamanya indah. Senang dan duka datang silih berganti. Hal ini semakin memantapkan hati untuk menilai kehidupan dunia ini adalah semu. Kebahagiaannya semu. Demikian juga kesedihannya semu...

Ada kehidupan selanjutnya di hadapan kita. Itulah negeri akhirat. Abadi dan hakiki. Di sanalah tempat istirahat dan bersenang-senang yang hakiki, yakni di surga-Nya yang penuh limpahan rahmat dan kenikmatan. Atau kesengsaraan hakiki, di neraka yang panas membara. Tempat kembali orang-orang durhaka kepada Sang Pencipta.
Kesenangan dunia dan kesengsaraannya adalah ujian dari Allah Azza wa Jalla. Apakah menjadi hamba yang bersyukur saat diberi nikmat dan sabar saat diberi cobaan, ataukah sebaliknya. Karena dunia ini adalah _daarul ibtilaa’_ (negeri tempat ujian). Allah Azza wa Jalla berfirman,



وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ


“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali.” (QS. Al-Anbiya: 35).

Ikrimah rahimahullah pernah mengatakan,

ليس أحد إلا وهو يفرح ويحزن، ولكن اجعلوا الفرح شكراً والحزن صبر


“Setiap insan pasti pernah merasakan suka dan duka. Oleh karena itu, jadikanlah sukamu adalah syukur dan dukamu adalah sabar.”

Senang dan duka adalah sunatullah yang pasti mewarnai kehidupan ini. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti.
Allah Azza wa Jalla menciptakan kebahagiaan dan kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Allah Azza wa Jalla yang maha rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri. Hinggalah ia hanya mengadu harap di hadapan Allah Azza wa Jalla. Merendah, bersimpuh pasrah kepada Allah Azza wa Jalla yang maha penyayang. Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihi sallam,

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ


“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Sungguh senantiasa ada hikmah dalam ketetapan Allah Azza wa Jalla Yang Maha Hakim (bijaksana) itu,

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ


“Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm: 43)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ


“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At-Taubah: 40)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa menjadikan suka adalah syukur dan duka adalah sabar untuk meraih ridha-Nya.

Komentar

Tampilkan

Terkini

NamaLabel

+